ASPEK ONTOLOGI EPISTEMOLOGI
DAN AKSIOLOGI PADA SOSIOLOGI
PENGANTAR
Manusia
sebagai makhluk yang hidup secara bersama, dimana didalamnya terdapat interaksi
komunikasi, saling membutuhkan satu sama lain, saling melengkapi terhadap
segala kekurangan sehingga membentuk suatu tradisi dan kebudayaan. Di sisi lain
masyarakat yang hidup menyatu sudah pasti muncul berbagai kepentingan satu sama
lain, sehingga tidak jarang menimbulkan berbagai masalah konflik, ketegangan,
kecemburuan, dan lain sebagainya. Guna untuk mempelajari seluk beluk kehidupan
masyarakat maka muncullah didiplin keilmuan yang disebut sosiologi. Sosiologi
yakni sebuah keilmuan yang ditemukan oleh para ilmuwan yang objeknya adalah
masyarakat, diharapkan dapat dipelajari untuk mengetahui lebih dalam kehidupan
masyarakat itu sendiri.
Dalam mendapatkan atau menemukan ilmu pengetahuan tentang
masyarakat tersebut, para ilmuwan menggunakan suatu metode-etode yang
sistematik. Metode-metode tersebut telah teruji guna memperoleh pengetahuan
secara benar. Metode dalam penelitian ini sangat penting sekali karena akan
berpengaruh pada hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan atau
sosolog. Melalui metode yang tepat akan dapat memperoleh suatu kebenaran yang
dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.
Sehingga
dari hasil penelitian tersebut mempunyai manfaat dan kegunaan yang besar bagi
masa sekarang maupun masa mendatang.
A. ASPEK ONTOLOGI
Definisi
Sosiologi dan Hakekatnya
Sosiologi merupakan sebuah istilah dari kata latin Socius yang
artinya teman, dan Logos dari kata Yunani yang artinya cerita,
diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul Course de
Philosophie Positive karangan August Comte (Surajio:24).
Adalah sangat sukar untuk memberikan definisi yang pasti,
yaitu mengemukakan keseluruhan pengertian. Oleh karena itu suatu definisi hanya
dipakai pegangan sementara saja. Sungguhpun penyelidikan berjalan terus dan
ilmu pengetahuan tumbuh kea rah pelbagai kemungkinan, masih juga diperlukan
suatu pengertian yang pokok dan menyeluruh.
Untuk patokan sementara, akan mencoba memberikan definisi
sosiologi sebagai berikut ;
- Pitirim
Sorakin mengatakan bahwa sosiologi berikut adalah
suatu ilmu yang mempelajari :
- Hubungan dan
pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social (misalnya
antara gejala ekonomi dengan agama ; keluarga dengan moral ; hukum dengan
ekonomi ; gerak masyarakat dengan politik dan sebagainya).
- Hubungan dan
pengaruh timbal balik antara gejala social dengan gejala-gejala
non-sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya).
- Ciri-ciri
umum dari pada semua jenis gejala-gejala social.
- Roucek and
Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dan kelompok-kelompok.
- William F
Ogburn and Mayer F. Nimkoff berpendapat
bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi social
dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
- Menurut Lammers sosiologi
adalah ilmu tentang struktur yang stabil dan proses sosial.
- Menurut Joseph
B. Gitter sosiologi is the study of the forms and processes of
human togetherness.
- Robert W,
O’Brien, Clarence C. Schrag dan Walter T. Martin, memberikan definisi; Sociology is the
study of human interaction and social organization.
- Max Weber berpendapat sosiologi adalah ilmu yang
berupaya memahami tindakan-tindakan sosioal.
- Selo
Sumardjan dan Soelaeman Soemardi berpendapat, sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang
mempelajari struktur social dan proses-proses social termasuk perubahan
social.
- Paul B.
Horton, berpendapat sosiologi ialah ilmu yang memusatkan
penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
Apabila sosiologi di telaah dari sudut sifat hakekatnya,
maka akan dijumpai beberapa petunjuk yang akan dapat membantu untuk menetapkan
ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu.
- Sosiologi
adalah suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun
ilmu pengetahuan kerohanian.
- Sosiologi
bukan merupakan disiplin normative tetapi adalah suatu disiplin yang
kategoris ; artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa
ini, dan bukan mengenai apa yang terjadi dewasa ini, dan bukan mengenai
apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
- Sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science) dan
bukan merupakan ilmu pengetahuan penterapan (applied science).
- Sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu
pengetahuan yang kongkrit.
- Sosiologi
bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.
- Sosiologi merupakan
ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.
- Sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan ilmu pengatahuan yang
khusus.
Objek
Sosiologi
Sebagaimana ilmu-ilmu social yang lain, objek sosiologi
adalah masyarakat yang dilihat dari sudut pandang hubungan antar manusia, serta
proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyrakat.
Namun perlu diketahui pula bahwa dalam memberikan batasan
tentang masyarakat itu masih sukar. Oleh karena itu pulalah istilah masyarakat
mengandung banyak factor, sehingga meskipun diberikan suatu definisi yang
berusaha mencakup keseluruhannya, masih ada juga yang tidak memenuhi
unsure-unsurnya. Ada beberapa sarjana memberikan definisi masyarakat seperti :
- Mac Iver and
Page
Masyarakat adalah suatu sistim dari kebiasaan dan tata
cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompokdan penggolongan
dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia.
- Ralph Linton
Masyarakat meupakan setiap kelompok manusia yang telah
hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur dirinya
mereka sebagai suatu kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan
jelas.
- Selo
Soemardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan.
Dari beberapa definisi di atas sama-sama berobyek pada
masyarakat yang mencakup beberapa unsure, yaitu :
- Manusia yang
hidup bersama.
- Bercampur
untuk waktu yang cukup lama.
- Mereka sadar
bahwa mereka satu kesatuan.
- Mereka suatu
system hidup bersama.
B. ASPEK EPISTEMOLOGI
Sebagaimana
ilmu pengetahuan lainnya, sosiologi harus memenuhi syarat-syarat ilmiah. Karena
sosiologi meneliti kehidupan manusia sebagai kenyataan (das sain) maka
tidak dapat dihindari bahwa metode penelitiannya haruslah bersifat empirik.
Dari beberapa kejadian nyata sosiologi harus dapat mengambil kesimpulan dan
menyusunnya secara logik dan sistematik. Adapun yang dijadikan bahan
penelitiannya ialah hal-hal yang diduga merupakan kenyataan dan terjadi secara
berulang. Sebagaimana yang telah dikutip Astrid S. Susanto, Roland
J. Pellegrin berpendapat bahwa pendekatan empirik dari sosiologi
inilah yang memberi ciri khas kepada sosiologi dalam membedakannya dari
ilmu-ilmu sosial lainnya (Susanto: 4)
Karena
sosiologi dengan ilmu social yang lain objek materinya memiliki banyak
persamaan maka justru dalam segi seleksi dari bberapa perspletif dan aspek
proses kehdupan manusia maka sosiologi membedakan diri dari ilmu-ilmu tetangganya
bersamaan dengan ilmu-ilmu social lainnya, sosiologi memepelajari tidakan
manusia dalam kelompok hidupnya. Persamaan ini terdapat lebih jauh dalam usajha
mengerti keteraturan dan ketertiban yang terdapat dalam masyarakat, sehingga
keteraturan ini diharapkan diusahakan untuk dianalisa sebab-sebabnya. Disamping
itu dalam kehiduapan kelompok manusia pada umumnya mengikuti kebiasaan
kelompokknya, mengikuti peraturan yang berlaku. Justru usaha individu atau
kelompok untuk menyesuaikan diri ataupun melawan usaha keseragaman oleh
kelompokknya ataupun masyarakat luasnya itulah meruapakan bahan penelitian
bagai berbagai ilmu social. Disamping itu dalam meneliti objek materinya
ilmu-ilmu social menggunakan metode penelitian yang tidak banyak berbeda dari
ilmu umum dicapai oleh ilmu-ilmu sosial lainnya.
Dengan
demikian muncul pertanyaan letak perbedaan sosiologi dengan ilmu sosial
lainnya? Perbedaan pertama terletak pada pendekatan penelitiannya : sosiologi
menganalisa dan meneliti kelompok seakan-akan merupakan suatu atau objek yang
menunjukkan ciri-ciri khas, walaupun ia mengetahui bahwa bidang hasil
penelitian sebagai hasil hubungan antar manusia sebenarnya bukan sesuatu yang
dapat dibatasi dengan nyata. Pendidikan ini dirasa perlu untuk dapat memperoleh
keterangan-keterangan tentang struktur, misi, dan hubungan dari bagian-bagian
keseluruhan kehidupan manusia. Dengan demikian yang menjadi objek sosiologi
berupa hubungan, sehingga bukan sesuatu yang dapat dilihat akan tetapi hanya
diketahui sebab dan akibatnya, menyebabkan bahwa penelitian sosiologi mengalami
banyak kesukaran.
Salah satu kesukarannya
ialah bahwa manusia yang hubungan serta tindakannya diselidiki, tidak dapat
diteliti secara terisolir dari lingkungan dan pengaruh-pengaruh terhadap
dirinya, seperti pengaruh masa lampau, pengaruh kebudayaan, pendidikan dan
seterusnya. Dalam proses ini sosiologi harus menyusun analisa tentang
keteraturan, struktur serta hubungan beban antar manusia meminta juga dari
orang-orang yang mendalaminya, suatu kemampuan untuk berfikir abstrak.
Sehubungan dengan kebutuhan bahkan tuntutan dari pendekatan ini, maka dengan
ini sosiologi tidak dapat menarik kesimpulannya dari kejadian-kejadian yang
terjadi yang berulang dan teratur serta kurang menaruh pehatian terhadap apa
yang lain dari lainnya. Selanjutnya berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya
yang terbanyak bersifat normative, sosiologi sebaliknya bersifat objektif dari
penelitiannya dengan membuang dan menjauhkan sebanyak mungkin nilai-nilai
pribadinya pada waktu pengadaan penelitian.
Sosologi
dalam hal ini dapat memilih metode kualitatif dan kwantitatif. Metode
kwalitatif mengutamakan yamg sukar dapat diukur dengan angka-angka lain yang
eksak, walaupun bahan-bahan tersebut nyata dalam masyarakat. Didalam metode
kwalitatif termasuk metode historis dan metode komfaratif yang dikombinasikan
menjadi historis kompararatif. Metode historis menggunakan analisa atas
peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.
Metode komparatif mementingkan perbandingan antara berbagai masyarakat
beserta bidang-bidangnya, untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan
persamaan-persamaan. Metode case study bertujuan untuk
mempelajari sedalam-dalamnya salah satu gejala dalam kehidupan masyarakat. Case
study dapat digunakan untuk menelaah suatu keadaan, kelompok,
masyarakat setempat, lembaga-lembaga, dan individu-individu. Metode kuntitatif
mengutamakan bahan-bahan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang
ditelitinya dapat diubah dengan menggunakan skala-skala, indeks, table dan
formula yang semuanya itusedikit banyanya menggunakan ilmu pasti. Selain
metode-metode diatas, dapat juga menggunakan metode deduksi dan induksi.
Metode induksi yaitu mengambil kesimpulan dari banyak kejadian yuang
terjadi secara berulang dan perhatikan kesamaan. Hal ini tidak berarti bahwa
sosiologi tidak memperhatikan perbedaan yang ada, akan tetapi dalam garis
besarnya, justru karena syarat ilmiah ialah :
- bahwa
sesuatu harus mempunyai nilai universal
- bahwa
sesuatu harus dapat diverivikasi kebenarannya
- bahwa
sesuatu harus objektif, artinya tidak merupakan hal yang khusus., maka
sosiologi mengunakan metode induksi.
Sebagaimana
diketahui metode deduksi meruapakan metode dengan arah kerja/pemikiran yang bertentangan
arah dengan metode induksi, yaitu mengadakan suatu dari yang kemudian
diusahakan untuk dibuktikan. Biasanya dalam mengadakan suatu penelitian
kedua-keduanya dipakai yaitu kalau sesorang hendak meneliti sesuatu maka ia
telah mempunyai suatu dugaan bahwa suatu terjadi, hal mana diusahakan
dibuktikan dengan jalan menggunakan penelitian. Penelitiannya akhirnya akan
memberikan kepada peneliti data serta menjelaskan fakta yang diperoleh melalui
observasi. Berdasarkan ini pulalah maka peneliti akan menggunakan metode
induksi.
Sehubungan
dengan objek materi dan objek formal dari sosiologi perlu dibahas pula applied
sociology atau sosilogi terapan. Sebagaimana yang telah dikatakan
objek formal dari sosiologi ialah usaha ilmu ini untuk meningkatkan pengertian
tentang hubungan antar manusia, meningkatkan kerjasama. Dengan sendirinya jelas
pulalah bahwa pengetahuan yang telah dikumpulan oleh sosiologi dapat diterapkan
dalam bidang-bidang praktek yang menyangkut bidang kehidupan ini.
C.
ASPEK AKSIOLOGI
Setelah sebelumnya dijelaskan aspek-aspek ontologi dan
epistemologi, maka dalam bahasan selanjutnya mencoba menjelaskan aspek
aksiologi sosiologi. Seperti telah diketahui bersama bahwa aksiologi merupakan
nilai kegunaan suatu ilmu,(Yuyun S. Sutriasumantri:227), maka dengan demikian
akan dibahas kegunaan-kegunaan sosiologi mengatasi problema-problema dalam
sosial.
Sosiologi menyelidiki persoalan-persoalan umum dalam masyarakat
dengan maksud untuk menemukan dan menafsirkan kenyataan-krnyataan kehidupan
kemasyarakatan-kemasyarakatan, sedangkan usaha-usaha perbaikannya merupakan
bagian sari pekerjaan sosial (social work). Maka dengan
kata lain sosiologi untuk memahami kekuatan-kekuatan dasar yang berada
dibelakang kelakuan sosial; pekerjaan sosial berusaha menanggulangi
gejala-gejala abnormal dalam masyarakat atau untuk memecahkan
persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.
Jadi
pada dasarnya problema-problema sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral;
problem-problem tersebut merupakan persoalan oleh karena menyangkut tata
kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak.
Walaupun
pada pokoknya sosiologi meneliti gejala-gejala kemasyarakatan, namun juga
sosiologi perlu mempelajari problema-problema sosial., namun problema-problema
tersebut merupakan aspek-aspek dari tata kelakuan sosial. Maka demikian
sosiologi juga berusaha dengan problema-pronlema sosial seperti kejahatan,
konflik antar ras, kemiskinan, perceraian, pelacuran, dan sebagainya. Hanya
dalam hal ini sosiologi bertujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya
problema-problema tersebut; sosiologi tidak terlalu menekankan pada pemecahan
atau jalan keluar dari problema-problema tersebut. Oleh karena usaha-usaha
untuk mengatasi problema-problema sosial hanya mungkin berhasil apabila didasarkan
pada kenyataan serta latar belakangnya, maka sosiologi dapat pula ikut serta
untuk membantu mencari jalan keluar yang efektif (Soejono Soekanto: 281).
Selain kegunaan-kegunaan diatas sosiologi juga berguna bagi proses pembangunan.
KESIMPULAN
Sosiologi bila ditinjau
dari Aspek Ontologi, Epistemology dan Aksiologi adalah :
1. ASPEK
ONTOLOGI
a. Sosiologi
sangat sukar dirumuskan definisi (batasan makna); yaitu mengemukakan
keseluruhan pengertian sifat hakekat yang dimaksud dalam beberapa kata dan
kalimat. Suatu definisi hanya dapat dipakai suatu pegangan sementara saja.
b. Sifat
hakikat sosiologi
- Sosiologi
adalah ilmu social
- Sosiologi
bukan merupakan disiplin normative tapi kategoris
- Sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan murni bukan terapan
- Sosiologi
ilmu pengetahuan yang abstrak
- Sosiologi
bersifat empiris dan rasional
- Sosiologi
ialah ilmu pengetahuan umum dan khusus.
c. Adapun
objek sosiologi adalah masyarakat
2. ASPEK
EPISTEMOLOGI
Metode-metode
sosiologi antara lain :
a. Metode
kualitatif di dalamnya termasuk metode komparatif (gabungan metode sosila dan
komparatif)
b. Metode
Kuantitatif
c. Metode
Case-Study
d. Metode
Induktif
e. Metode
Deduktif
3. ASPEK
AKSIOLOGI
Kegunaan
sosiologi antara lain :
a. Sosiologi
menyelidiki masalah umum dalam masyarakat.
b. Sosiologi
bertujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya masalah dalam masyarakat.
c. Sosilogi
membantu jalan keluar secara efektif dalam menyelesaikan masalah dalam
masyarakat.
d. Sosiologi
juga berguna bagi pembangunan
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soejono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
Universitas Indonesia. 1969.
Susanto, Astrid S. Pengantar Sosiologi dan Perubahan
Sosial. Jakarta. Bina Cipta. 1983
Sutria
Somantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta.
Sinar Harapan. 2005
Suarajiyo. Filsafat Ilmu dan Perkembanganya Di Indonesia
Suatu Pengantar. Jakarta.
Dwi
Aksara.2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar